Terbuka saat Level Karakter mencapai Lv. 60
Kumpulan Kisah Detektif Aliran Buas (8)Penyakit aneh Pak Ashveil kambuh hebat sesekali.
Dia menyuruh semua orang menjauh, dan kami akan mendengar kulkas bergetar hebat, diikuti suara cabikan dan gigitan, lolongan yang tertahan, serta bayangan hitam mengerikan yang terpantul di tirai jendela.
Setelah kembali tenang, dia akan menyeret tubuhnya yang kelelahan keluar dari kulkas, membersihkan darah dan keringat yang telah membeku, lalu dengan cermat memperkuat paku di pergelangan tangannya.
Dia sering berkelakar,
"Kalau aku ada di novel detektif, pasti bakal dicurigai sebagai penjahatnya."
Memang, ada banyak hal yang tampak mencurigakan.
Pertama, menurut hitungan kasarku, Pak Ashveil sudah pindah rumah entah berapa kali. Kedua, beberapa teman lama mencarinya, tapi dia selalu menghindar dan enggan bertemu.
Namun sebagai asisten, aku berkewajiban mengklarifikasi kebenarannya kepada para pembaca.
Pak Ashveil adalah sosok sentimental yang gemar menyimpan kenangan masa lalu di dalam koper antiknya.
Sebuah peluru yang berlumuran darah ... Bahkan setelah sepuluh Era Amber berlalu, darah yang menempel di atasnya masih merah menyala seperti api yang membara.
Sebatang anak panah yang berkarat dan tergigit patah di bagian tengahnya, tetapi masih bergetar seakan ingin terbang menuju suatu arah.
....
Juga ada sebuah gelembung memori redup, yang konon berasal dari medan perang kuno tempat gugurnya seorang Lord Ravager.
Saat menyentuh gelembung memori, aku merasa seperti pernah mengalami mimpi yang serupa ....
Raungan Voidranger yang menggelegar, gumaman rekan seperjuangan yang kehilangan kehangatannya, serta rasa takut sedingin es yang bergolak di tenggorokan.
"Jangan lengah, tetap fokus pada target kita." Sosok yang familier membelakangi rekannya sambil menelan darah.
Bintang jatuh yang tak terhitung jumlahnya berdatangan dari segala penjuru. Namun, layaknya ngengat yang terbang menuju api, semuanya habis terbakar dalam kobaran Destruction.
"Apa kita bisa menang?"
"Apa semua pengorbanan ini ada artinya ...?"
Keputusasaan yang lebih mengerikan daripada kegelapan di sekitar menyelimuti hati semua orang.
Di malam yang tragis itu, pria itu ditusuk oleh sumpahnya sendiri.
"Jika tidak bisa menemukan cahaya, maka biarlah kita telan kegelapan dengan kegelapan yang lebih pekat."
Bayangan menyebar dari lengannya dan berubah menjadi dosa hitam pekat yang menenggelamkan medan perang, dirinya sendiri, dan semua rekannya. Sejak saat itu, bayangan itu menjadi kutukan yang melekat padanya seperti infeksi tulang.
Sebenarnya, Pak Ashveil bukan penjahat, melainkan pasien, dan penyakitnya sama sekali bukan sekadar radang sendi dan rematik.
Namun, dia sudah meresepkan obat untuk dirinya sendiri sejak lama:
"Peraturan Detektif No. 3: Pengorbanan di malam yang panjang adalah harga yang harus dibayar demi hari esok."