Terbuka saat Level Karakter mencapai Lv. 60
Enkidu telah mati.
Semua orang tahu bahwa ini adalah kutukan para dewa. Sebelum ini pun, orang-orang sudah tahu bahwa menentang para dewa pasti ada harganya; namun saat harga tersebut benar-benar harus dibayar, semua orang sepertinya tidak siap ....
Terutama sang raja yang pernah sesumbar bahwa dirinya "tidak takut dengan kematian".
"Konyol, mana mungkin aku menangis atas kematian temanku?
"Lagi pula, aku adalah raja atas dunia ini, mana mungkin ada 'teman'?
"Kalaupun ada, aku pasti sudah lupa siapa namanya."
Jawabannya tidak relevan.
Singkatnya, menurut epos: Gilgamesh meninggalkan Uruk, berkelana melintasi gunung dan sungai, sampai akhirnya tiba di sebuah bar di ujung dunia.
Pemilik bar itu bernama Siduri. Dia menanyakan asal-usul Gilgamesh secara mendalam, sampai dia yakin bahwa orang itu layak mendapatkan bimbingannya, barulah dia memberitahunya rahasia melintasi ujung dunia untuk mencapai negeri keabadian ....
Di sana tinggallah manusia tertua, Utnapishtim, nama Sumerianya adalah Ziusudra. Dia selamat dari air bah di zaman purba dan hidup mengasingkan diri sampai hari ini.
"Ah, aku ingat dia.
"Karena terdaftar dalam jajaran dewa dan memperoleh kehidupan kekal, dia juga kehilangan tubuh fananya karena alasan yang sama, menjadi eksistensi yang bahkan lebih rendah daripada tanaman ....
"Konyol sekali. Kalau ini adalah satu-satunya harga untuk menjadi abadi, aku tidak akan pernah menerimanya."
Dengan terpaksa, akhirnya pria tua itu memberitahukan rahasia lain kepada Gilgamesh, agar dia tidak perlu mengemis belas kasihan kepada para dewa untuk memperoleh keabadian.
"Meskipun orang itu menipuku, itu tetaplah harta karun langka yang cukup untuk gudang harta ....
"Oleh karena itu, demi mencari 'tanaman keabadian', aku sekali lagi memulai perjalananku."
Kenyataannya memang seperti itu, tapi sayangnya ....
"Tidak ada yang perlu disesali. Aku sudah menemukan tanaman itu, memasukkannya ke dalam botol, dan kembali ke Uruk, persis seperti dalam legenda, tanpa ada kebohongan sedikit pun.
"Baiklah, wawancaranya sampai di sini saja. Waktuku sangat berharga, setelah ini aku harus mengurus live streaming yang ditangguhkan ...."
Sayangnya, wahai Raja, kamu tidak bisa melarikan diri.
Akhir sejati dari epos adalah sebagai berikut: Saat mandi dan berganti pakaian untuk kembali ke Uruk, Gilgamesh menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri tanaman itu ditelan oleh seekor ular kecil yang hina ....
Namun pada saat itu, sang raja justru tertawa terbahak-bahak tak terkendali, sampai tubuh dan wajahnya hampir tampak terdistorsi.
Saat dia tersadar kembali, cahaya fajar telah menyingsing lagi.
Kemudian, sang raja kembali ke Uruk dengan tangan hampa.
Wahai pembaca di masa depan, jangan menyalahkan Gilgamesh, karena pengembara memang harus pulang ke rumah.