Terbuka saat Level Karakter mencapai Lv. 40
Dia mendengar napas yang tersengal-sengal dari idealisme yang kewalahan menanggung bebannya sendiri.
Saat benar-benar melangkah ke depan panggung, barulah dia menyadari bahwa terikat oleh keadaan adalah hal yang biasa terjadi.
"Pergilah, Nak, naiklah ke atas panggung, demi Jiwa Berwajah Tiga, demi Family, dan demi semua orang."
Suara yang berwibawa itu tidak memberinya kesempatan untuk menolak. Dari satu acara promosi ke acara promosi lainnya, dia menenun mimpi "Harmony" yang indah lagi dan lagi untuk para pendengar dengan suara yang letih.
Namun, saat melihat mata orang-orang membara dengan semangat yang sama, dia justru merasa merinding.
"Robin, apakah kamu masih setia pada Path Harmony dan Family?"
Dia tidak ingat lagi sudah keberapa kalinya utusan dari Tuan Besar menginterogasi anggota keluarga Oak.
"Aku selalu setia pada Path Harmony."
"Lalu, apakah kamu akan menjunjung tinggi filosofi Family, menyatukan semua orang dengan nyanyian, dan memastikan persatuan?"
"Aku ...."
Tenggorokannya terasa kering, tidak bisa berkata-kata.
Dia sering bermimpi dirinya didorong ke atas panggung tertinggi.
Para utusan Family yang dingin dan tak berperasaan mengendalikan tubuhnya. Saat mulutnya terbuka, suara yang keluar adalah suara orang lain, dan tangannya terangkat bukan atas kemauannya sendiri.
Tangannya sendiri juga mengendalikan boneka kayu yang tak terhitung jumlahnya di bawah panggung. Boneka-boneka kayu itu berputar dan melompat-lompat mengikuti tariannya.
Dia ingin meronta, ingin melarikan diri, tetapi saat terbangun, dia mendapati dirinya masih berada di tempat yang sama.
Di malam-malam saat dia tidak bisa tidur, dia memutuskan untuk berhenti gelisah dan berjalan di kegelapan malam Penacony.
Saat berjalan di tengah malam, dia ingin melupakan semuanya. Karenanya, dia memusatkan fokusnya pada hal-hal yang bisa diubahnya.
Dia kembali ke Dreamflux Reef dan menggunakan donasi dari pertunjukan amal untuk membantu penduduk yang kesulitan, serta mendanai perkembangan dan pendidikan anak-anak.
Dia mengunjungi setiap momen di dunia mimpi, menggunakan nyanyiannya untuk menghibur para pekerja yang lelah di sudut-sudut dunia mimpi, dan membuka kelas musik gratis untuk mereka.
Dia mendengarkan doa dan harapan setiap orang yang mengaku dosa, tetapi tidak pernah memberikan jawaban yang tegas, melainkan membagikan inspirasinya ....
"Aku tidak peduli yang kuat melindungi yang lemah atau menindas yang lemah di dunia ini, aku hanya fokus membantu yang lemah dan menjaga martabat mereka ...."